Archive for June, 2005

THREE DAYS OF OUR LIFE

Sunday, June 26th, 2005

Ini tulisan seseorang (sori so nintau sapa) yang kita dapa dari forward-forwardan e-mail. Bagus, motivational, dan mengingatkan kita untuk selalu mensyukuri hari ini dan berbuat terbaik dalam tiap hari yang kita miliki.

Hanya Ada 3 Hari di Hidup ini ……..
Yang pertama;
Hari kemarin. (PAST)
Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan;
dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja…

Yang kedua:
Hari esok. (FUTURE)
Hingga mentari esok hari terbit,
Anda tak tahu apa yang akan terjadi.
Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; biarkan saja…

Yang tersisa kini hanyalah :
Hari ini. (PRESENT)
Pintu masa lalu telah tertutup;
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.
Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini
bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan
melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa
depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya.
Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati
dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada
orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena
siapakah diri anda sendiri

Jadi teman, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa
depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik
HARI INI dan lakukan SEKARANG juga!!!!!!

The day will come when you will review your life
and be thankful for every minute of it.
Every hurt, every sorrow, every joy, every
celebration, every moment of your life will be a
treasure…
That’s why today is called a PRESENT!

A Note to Friends in KoRem 141

Sunday, June 26th, 2005

Terlibat dalam kegiatan pelayanan di Gereja sungguh merupakan kesempatan yang menyenangkan. Lewat itu selain torang bisa melayani Tuhan, torang juga bisa belajar untuk berorganisasi, bersosialisasi dengan teman-teman yang bermacam-macam latar belakangnya, belajar berbagai keterampilan dan menemukan talenta-talenta kita. Misalnya yang dulu nintau baca not sekarang bisa nyanyi di koor, yang dulu paling tako bicara di muka orang banya sekarang jadi senang tampil (ambisi!!), yang dulu berdoa bisanya cuma satu dua kalimat sekarang bisa berdoa dengan lancar dan terstrukImg_6528 tur, dan lain-lain. Bahkan, lewat berbagai proses yang torang alami di pelayanan, torang dapat mengenal lebih dalam tentang karakter dan kepribadiannya torang sendiri. Oh ya amper lupa, buat sebagian teman-teman kita, aktivitas pelayanan di Gereja juga ‘berjasa’ memberikan mereka kesempatan untuk kenal dan punya hubungan khusus dengan someone mereka, hehe…iya kan, ngaku deh…

Daftar manfaat-manfaat yang torang dapatkan dari pelayanan di Gereja yang ditulis diatas itu baru sebagian, dan kita percaya teman-teman bisa melanjutkan daftar itu dengan lebih banyak lagi manfaat-manfaat yang teman-teman temukan…. Dan itu bagus sekali. Nah… normalnya, kalo torang mengetahui ada sesuatu yang begitu bermanfaat dan mendatangkan hal-hal positif buat torang pe diri, torang akan dengan setia melakukannya – dengan senang hati. Normalnya juga, kalo torang tau segitu banyaknya hal positif yang torang boleh dapatkan lewat pelayananan yang torang lakukan, tentu torang akan dengan setia, joyfully and gratefully melakukannya. Tapi sayangnya, torang seringkali terjebak untuk melakukan torang pe pelayanan itu sebagai pekerjaan yang rutin sifatnya. Analognya rupa ini: karna torang mahasiswa, torang kuliah dari Senin sampe Jumat. Kalo nda kuliah boleh sih… mar nanti orang bilang mahasiswa apa le ini. Sama juga, karna torang pengurus, torang datang ibadah remaja untuk melayani. Boleh sih nda datang, mar nanti pengurus laen bilang apa… Kadang, sadar atau nda, torang melayani hanya karna torang pe tuntutan status sebagai pengurus. Bukan lagi karna torang rindu untuk mendapatkan berkat dan menjadi saluran berkat buat orang lain khususnya remaja. Melayani jadi kegiatan rutin yang, sudah untung kalo torang mo beking. Torang nda lagi dengan senang hati, dan dengan bersyukur masih dapat kesempatan itu. Bahkan kadang, jujur, kita sendiri pernah berpikir… pelayanan 2005-2007? Masih lama kang? Yah begitulah…. Di balik “keambisian” yang teman-teman lihat, ada saatnya kita burn-out, lelah, dan pingin ni masa kepengurusan cepat2 abis. Sebenarnya kita malu menulis ini, mar kita mantapkan hati mo meneruskan apa yang kita tulis, dengan harapan teman-teman jangan pernah sampe di keadaan rupa kita tadi. Lelah dan ingin ni masa pelayanan cepat2 abis. Kenapa? Karna sekarang setelah hampir pasti kita akan kehilangan kurang lebih 16 bulan masa pelayanan di KoRem 141, tiba-tiba semua kesempatan untuk melayani jadi terasa sebagai sesuatu yang berharga. Sangat berharga. Kita baru sadar, bahwa kesempatan untuk sama-sama melayani nda akan selalu ada buat torang. Torang nda akan pernah tau… Mungkin saat ini torang berpikir, 2005-2007, masih banyak le kwa torang pe kesempatan utk melayani. But who knows besok apa yang akan terjadi dengan torang… bisa saja kesempatan untuk melayani seperti sekarang nda akan lagi torang miliki. Kesehatan, torang pe keberadaan saat ini, torang pe Gereja yang megah dan kesempatan beribadah dan melayani dengan bebas itu nda abadi sifatnya. Selalu akan ada kemungkinan bahwa besok keadaan jadi berbeda sama sekali. That’s why, sebelum semua itu terjadi kita rindu skali teman-teman ingat untuk menghargai torang pe kesempatan utk melayani bersama di KoRem 141, dan menggunakan tiap kesempatan yang ada dengan hati bersyukur. Dengan senang hati. Dengan sungguh-sungguh, as if tomorrow never comes. Seperti ini kesempatan terakhir teman-teman untuk melayani. Seperti ini kesempatan terakhir teman-teman mo ngemsi, sesiap LCD, lagu-lagu, ator-ator mike, suru maju pa ade-ade remaja… seperti ini kesempatan terakhir iko PEPS, kesempatan terakhir dapa teguran dari Ci Oliv (ampun ci!! ^_*), seperti ini saat terakhir sama-sama di KoRem 141 dalam fellowship of friends… Sehingga segala sesuatu yang torang lakukan bisa membawa arti, bukan lagi hanya jadi rutinitas yang torang lakukan sebagai pengurus.

What’s more, qta rindu teman-teman bisa melayani dengan sungguh-sungguh bukan hanya karena ada berbagai manfaat dan berkat yang torang bisa dapatkan lewat pelayanan, tapi juga karena torang ingin menunjukkan kpd Tuhan bahwa torang benar-benar cinta padaNya. Kepada seseorang yg benar-benar torang cintai, torang pasti rindu utk selalu berikan yang terbaik, right? Teman-teman, di depan kalau Tuhan masih berikan kesempatan, ada berbagai rencana yang torang ingin jalankan. Program Pembimbing Remaja, Kamp Remaja mungkin, dan banyak rencana lainnya. Mari hargai dan gunakan tiap kesempatan melayani yang dipercayakan Tuhan pa torang dengan sungguh-sungguh. Selagi kesempatan itu masih ada. Kita nda tau what lies ahead, tapi kalau Tuhan berkenan kita akan pergi untuk kembali (lagu ini!?!) di awal 2007 nanti. Kita rindu saat kita pulang nanti dan kembali ke KoRem 141, kita akan melihat wajah-wajah yang benar-benar enjoy melayani, dan karenanya pelayanan di KoRem 141 bisa terus maju, semua demi kemuliaan nama Tuhan. Mari sama2 berdoa utk itu. Walaupun nda sama2, ta harap trg bisa tetap punya “fellowship of prayers”.

Oh iyo, skalian minta maaf kalo selama melayani sama-sama ada hal-hal yg kita beking yg menyakitkan dan mengecewakan, hiks…hiks! Truly I didn’t mean to do that. Terakhir, mari torang melakukan yang terbaik buat Tuhan. Seperti yang kita kutip dari nice e-mail yg kita baca:

"The day will come when you will review your life and be thankful for every minute of it. Every hurt, every sorrow, every joy, every celebration, every moment of your life will be a treasure…That’s why today is called a PRESENT!" Will miss u a great deal!!

WHY AM I COMPLAINING?

Sunday, June 26th, 2005

WHY AM I COMPLAINING?

~Helen Steiner Rice

My cross is not too heavy,
My road is not too rough
Because God walks beside me
And to know this is enough…
And though I get so lonely
I know I’m not alone
For the Lord God is my father
And He loves me as His own…
So let me stop complaining
About my ‘load of care’
For God will always lighten it
When it gets too much to bear…
And if He does not ease my load
He will give me strength to bear it
For God in love and mercy
Is always near to share it.

INDEPENDENT WOMAN

Thursday, June 23rd, 2005

Destiny’s Child - Independent Women Lyrics

Lucy Liu… with my girl, Drew… Cameron D. and Destiny
Charlie’s Angels, Come on
Uh uh uh

Question: Tell me what you think about me
I buy my own diamonds and I buy my own rings
Only ring your cell-y when I’m feelin lonely
When it’s all over please get up and leave
Question: Tell me how you feel about this
Try to control me boy you get dismissed
Pay my own fun, oh and I pay my own bills
Always 50/50 in relationships

The shoes on my feet
I’ve bought it
The clothes I’m wearing
I’ve bought it
The rock I’m rockin’
‘Cause I depend on me
If I wanted the watch you’re wearin’
I’ll buy it
The house I live in
I’ve bought it
The car I’m driving
I’ve bought it
I depend on me
(I depend on me)

All the women who are independent
Throw your hands up at me
All the honeys who makin’ money
Throw your hands up at me
All the mommas who profit dollas
Throw your hands up at me
All the ladies who truly feel me
Throw your hands up at me

Girl I didn’t know you could get down like that
Charlie, how your Angels get down like that
Girl I didn’t know you could get down like that
Charlie, how your Angels get down like that

Tell me how you feel about this
Who would I want if I would wanna live
I worked hard and sacrificed to get what I get
Ladies, it ain’t easy bein’ independent

Question: How’d you like this knowledge that I brought
Braggin’ on that cash that he gave you is to front
If you’re gonna brag make sure it’s your money you flaunt
Depend on no one else to give you what you want

The shoes on my feet
I’ve bought it
The clothes I’m wearing
I’ve bought it
The rock I’m rockin’
‘Cause I depend on me
If I wanted the watch you’re wearin’
I’ll buy it
The house I live in
I’ve bought it
The car I’m driving
I’ve bought it
I depend on me
(I depend on me)

All the women who are independent
Throw your hands up at me
All the honeys who makin’ money
Throw your hands up at me
All the mommas who profit dollas
Throw your hands up at me
All the ladies who truly feel me
Throw your hands up at me

Girl I didn’t know you could get down like that
Charlie, how your Angels get down like that
Girl I didn’t know you could get down like that
Charlie, how your Angels get down like that

Destiny’s Child
Wassup?
You in the house?
Sure ’nuff
We’ll break these people off Angel style

Child of Destiny
Independent beauty
No one else can scare me
Charlie’s Angels

Woah
All the women who are independent
Throw your hands up at me
All the honeys who makin’ money
Throw your hands up at me
All the mommas who profit dollas
Throw your hands up at me
All the ladies who truly feel me
Throw your hands up at me

Girl I didn’t know you could get down like that
Charlie, how your Angels get down like that
[repeat until fade]

Destiny’s Child - Independent Women Part II Lyrics

-Beyonce
What you think about a girl like me
Drive my own car and spend my own money
Only ring your celly when I’m feelin’ lonely
When it’s all over please get up and leave
Please don’t call me baby, cuz I’ll call you
Don’t mean to hurt your feelings, got a lot to do
Cuz I am my number one priority
No falling in love, no commitment from me

-chorus
All my independent women, throw dem hands up at me
And all my sexy women, throw dem hands up at me
All my money makin’ women, throw dem hands up at me
All my baller women, throw dem hands up at me

-hook
If ya feel it throw dem hands up
Where dem hands at
If ya feel it
Where da ladies
Where my homegirls
Where my females
Where my women

-Beyonce
How you feel about a girl like this
Try to control me, boy you’ll get dismissed
Do what I want, live how I wanna live
Buy my own diamonds, and I pay my own bills

Please don’t call me baby, cuz I’ll call you
Don’t mean to hurt your feelings, got a lot to do
Cuz I am my number one priority
No falling in love, no commitment from me

All my independent women, throw dem hands up at me
And all my sexy women, throw dem hands up at me
All my money making women, throw dem hands up at me
All my baller women, throw dem hands up at me

If ya feel it throw dem hands up
Where dem hands at
If ya feel it
Where the ladies
Where my homegirls
Where my females
Where my women

-Beyonce
How did you feel about this groove I wrote
Hope ya got the message, ladies take control
Don’t depend on no man to give you what you want
Keep that in mind next time you hear this song

If you independent I congratulate you
If you ain’t in love I congratulate you
Do dem boys like they used to do you
If you pimp him I congratulate you

All my independent women, throw dem hands up at me
And all my sexy women, throw dem hands up at me
All my money making women, throw dem hands up at me
All my baller women, throw dem hands up at me

If ya feel it throw dem hands up
Where dem hands at
If ya feel it
Where the ladies
Where my homegirls
Where my females
Where my women

-Beyonce
If I hurt your feelings boy
I’m sorry but I didn’t mean to hurt you
I thought you knew
Had no time to fall in love with you

All my independent women, throw dem hands up at me
And all my sexy women, throw dem hands up at me
All my money making women, throw dem hands up at me
All my baller women, throw dem hands up at me
(Repeat 2 more times)

Another Fave Quote

Saturday, June 18th, 2005

Hal yang paling Anda yakini, pasti akan terjadi

Dan keyakinan tersebutlah yang akan membuatnya terjadi

Frank Lloyd Wright (1869 – 1959)

Arsitek asal Amerika

Kalau Anda bisa membayangkannya, Anda pasti bisa mencapainya.

Kalau Anda bisa memimpikannya, Anda pasti bisa mewujudkannya.

William Arthur Ward (1921-1997)

Penulis

Untuk mencapai tujuan besar, kita tak hanya harus bertindak, tapi juga bermimpi.

Tak hanya berencana, tapi juga percaya.

Anatole

France

(1844 – 1924)

Pemenang nobel kesusasteraan 1921

RINDU KAMPUNG HALAMAN

Wednesday, June 15th, 2005

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Ini adalah tulisan yang diambil dari
majalah SWAP Indonesia 2004, p.54. Ditulis oleh seorang mahasiswa
cina kelahiran Malaysia yang mengambil jurusan Commercial Law di
University of Melbourne. Di tulisan ini ia berbagi tentang perasaan
rindu kampong halaman. I upload this article to remind myself, that
if at certain times I experience this kind of feeling, the feeling of
being ‘new man in town’, I will remember that IT IS
NORMAL, IT HAPPENS TO MOST OF INTERNATIONAL STUDENTS, and I AM NOT
ALONE…

Sebagai murid internasional yang
menjalani hidup ditempat baru dengan konsep baru sekaligus bertemu
dengan orang-orang baru, rasanya sulit menentukan siapa saya dan
dimana saya berada sebenarnya. Tapi inti dari kehidupan saya jelas:
dua dunia, dua kampung halaman, satu hati.”

Hidup sayadi Melbourne ibarat
sebuah pemandangan yang pernah saya saksikan satu hari di musim
dingin. Saya meliaht seekor burung tergeletak mati tak berdaya di
tanah. Saya tatap langit dengan pandangan putus asa tapi tiba-tiba
saya melihat kilasan pelangi, simbol janji dan harapan.”

Saat saya pertama kali tiba di
Melbourne, saya merasa kurang tidur, otak sepertinya tidak lebih dari
sekumpulan agar-agar. Begitu roda pesawat berdecit mendarat di
landasan pacu Tullamarine, hati saya deg-degan dan jantung saya
berdegup kencang. Saat saya melihat ke arah jendela tampaklah sinar
matahari terbit terindah yang pernah saya lihat.”

Sampai di kampus saya merasa
seperti orang tersesat. Saya mencari orang, suara atau setidaknya
makanan yang saya kenal. Setiap kaki melangkah, saya selalu mencari
hal-hal uang akrab dengan kampong halaman. Hari pertama di kampus
benar-benar sebuah tantangan. Ada perasaan sedih di hati karena tidak
kenal siapa-siapa. Melihat begitu banyak wajah tak dikenal merupakan
perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Saya takut inilah yang
namanya siksaan dunia. Yang lebih parah, saya ingin cepat-cepat
pulang kampung.”

Setelah periode awal yang aneh
ini, saya mulai merasa betah disini. Saya berteman dengan banyak
mahasiswa baru selama masa pengenalan kampus dan di tiap kelas setiap
orang berusaha berteman dengan siapa saja. Saya berkenalan dengan
karakter-karakter yang menyenangkan dan unik.”

Dengan membeli kartu telepon yang
harganya murah, saya akhirnya bisa menghubungi keluarga di rumah, dan
saya rutin mengirim email tentang petualangan dan pengalaman hidup
saya disini, mulai dari menghanguskan taplak meja saat merebus mi
instant sampai kisah-kisah asmara.”

Saya juga terlibat dalam sejumlah
kegiatan dan organisasi untuk menambah pengalaman seperti Melbourne
university Overseas Student’s Services, Chinese Culture Society,
National Liasson Committee, dan sebagainya.”

Kepribadian saya yang humoris dan
sedikit jahil pun tersalurkan disini. Ketika pulpen saya jatuh dan
seorang mahasiswa Australia membantu mengambilkannya, saya
mengatupkan kedua telapak tangan saya sambil menunduk khidmat dengan
gaya ketimuran yg sangat sopan dan berkata ‘Terimakasih atas
kebaikanmu’. Si mahasiswa itu emnatap saya dengan pandangan takjub
dan mungkin menganggap kelakuan saya sebagai bagian dari “tatakrama
Cina”. Dia tidak tahu bahwa sisi kejahilan saya baru saja muncul.”

Saya berjuang mengatasi rindu
kampong halaman dengan berkomunikasi dengan keluarga dan teman,
rileks, dan bbergabung dengan beragam kelompok dan komunitas. Saat
saya mengilas balik pengalaman-pengalaman saya, kesimpulannya setiap
akhir sebuah pengalaman adalah awal dari sebuah pengalaman baru,
sesuatu yang tak ternilai harganya untuk menjalani kehidupan di masa
depan.”

……………………………………………………………………………………………

Well, just like Mother Abbess in the
movie of Sound of Music said: “Climb every mountain, follow every
stream, follow every rainbow, ‘till you find your way.”

Go climb every mountain, Chrysant!

KABUT TAK TERGENGGAM

Wednesday, June 15th, 2005

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Kini ia percaya. Hati dapat berdenting
membentuk harmoni mayor sempurna yang manis di kuping, tanpa perlu
buka suara atau memetik gitar. Dawai terakhirnya, yang berbunyi tipis
tinggi tetapi menggenapi, telah terpetik. Warna-warna. Kita
memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di
depan mata. Kita tak pernah menyadari ketidaklengkapan hingga bersua
dengan kepingan diri yang tersesat dalam ruang waktu.
Dan ia
percaya kini.

(dari Keping 34,
Supernova Akar, Dee Lestari)

14 Juni 2005. Hanya sekilas perasaan
yang kurasakan hari ini, yang tergambarkan dengan sangat jelas oleh
tulisan Dee lewat buku Supernovanya yang…. Waw!!

I don’t know how she did that! Dia
selalu berhasil menggambarkan apa yang aku alami, atau yang pernah
aku alami, dengan begitu ‘click’nya. So right! Seperti saat dia
menggambarkan tidak enaknya jadi Elektra yang punya darah Cina, tapi
ayahnya sangat membaur dengan kehidupan pribumi (Supernova seri
Petir). Elektra yang sejak SD sampai SMA bersekolah di sekolah
negeri, bukan sekolah swasta yang mahal. Elektra yang tidak memanggil
cici kepada kakaknya atau susu kepada omnya… Elektra yang tidak
mengerti mengapa sepupu-sepupunya ngefans berat kpd Aaron Kwok, atau
bagaimana mereka bisa panen begitu banyak angpao dengan menyanyi
lagu-lagu mandarin, sementara Elektra cuma bisa ngiler melihatnya.
Menyanyi manuk dadali tentu tidak akan dapat sambutan disana.

Perasaan Elektra ini mengingatkan aku
pada perasaan diriku sendiri waktu masih self-identity-searcher.
Waktu itu, jadi manusia multikultur sama sekali nggak ada asiknya.
Saat aku bergabung di keluarga mama yang Chinese, aku merasa mataku
yang besar ini aneh, terus juga bingung dengan panggilan-panggilan
mereka, dan sama sekali tidak nyaman waktu diprotes sepupuku: ‘kenapa
cicimu kamu panggil mbak? Mbak kan pembantu’. Duh… Sama saja saat
aku ke keluarga papaku. Aku yang hanya mengerti bahasa Jawa yang
umum-umum banget, seringkali ketinggalan kalo mereka lagi bercanda.
Atau dapat tatapan mengerikan dari Eyang sepupuku saat tangannya
tidak kucium- hanya kusalami. How am I supposed to know? Keadaan
nggak jadi lebih baik saat aku diManado, tempat kelahiranku. Walaupun
tempat ini rasanya paling menerima pembauran suku, aku tetap saja
merasa aneh karena tidak punya ‘fam’ (surname), atau ‘gunung’,
tempat teman-temanku pada pulang kampung saat hari Natal tiba.

Well, itu sih dulu. Sekarang aku malah
senang dengan keadaanku ini. Karena dimanapun aku ini unik, hehe…
narsistik banget nggak sih! Tapi poinnya adalah, semua itu ada di
state of mind. Yang dulu terasa kekurangan, bisa juga ternyata
dipandang sebagai something special. Padahal sih nggak ada yang
berubah. Aku tetap aku yang sama kan…. Cuma dengan way of thinking
yang berbeda saja. Tapi aku berhutang pada Dee yang telah mewakili
apa yang pernah aku rasakan dulu dalam tokoh Elektra. Kalo Elektra
ketemu Tony yang orang Italia itu… aku ketemu siapa ya di
Netherlands nanti? Atau dia ada di Paris? Atau di…. Ah, this is the
fun of adventure, Lily. Enjoy it!

SUCCESS

Friday, June 10th, 2005

If you think you are beaten,
You are
If you think you dare not,
You don’t
If you’d like to win, but think you can’t
It’s almost a chinch you won’t
If you think you’ll lose,
You’re lost
For out in the world we find,
Success begins with a person’s faith,
It’s all in the state of mind.
Life’s battles don’t always go
To the stronger or faster hand,
They go to the one
Who trust in GOD
And always thinks
“I Can”

- Phil 4: 13
I can do all things through Christ who strengthens me.

Fave Quote

Thursday, June 9th, 2005

Imagination is the beginning of creation. You imagine what you desire; you will what you imagine; and at last you create what you will.

~ George Bernard Shaw

COLOUR EVERYWHERE

Thursday, June 9th, 2005

used to seeing black and white

never really in between
waiting for the love of my life
to come into my dreams
everything is shades of gray
never really blues or green

needed someone else to turn to
someone who could help me learn to see
all the beauty that was waiting for me

you, you put the blue back in the sky
you put the rainbow in my eyes
a silver lining in my prayers
and now there’s colour everywhere

you put the red back in the rule
just when i needed it the most
you came along to show you care
and now there’s colour everywhere
everywhere

my life is so predictable
never any mystery
but ever since you shined the light
all of that was history
now i have a hand to hold
and a reason to believe
there’s someone in my life worth living for
i was hanging around just wishing on a star
to put the happiness back in my heart and…

you, you put the blue back in the sky
you put the rainbow in my eyes
a silver lining in my prayers
and now there’s colour everywhere

you put the red back in the rule
just when i needed it the most
you came along to show you care
and now there’s colour everywhere
oh yeah…

you care and now there’s colour everywhere

left those hazy days behind me
never to return again
now they’re just a fading memory
coz baby it’s all so clear to see
the beauty that is waiting there for me

you, you put the blue back in the sky
you put the rainbow in my eyes
a silver lining in my prayers
and now there’s colour everywhere

you put the red back in the rule
just when i needed it the most
you came along to show you care
and now there’s colour everywhere
a silver lining in my prayers
and now there’s colour everywhere

you came along to show you care
and now there’s colour everywhere

This song made me think… how is it like to live in a monochrome world? Everything is in black and white, just like in comic books? No red in roses, no blue in the sky, no pink in my diary, no green in dollars (hehe…) How boring!

That’s why, this song also made me realize… how creative our Creator is. He put everything in colour… He touched the leaves to green, He send red in maples, He lay orange in the dawn… and in addition to that, He also reminds me the beauty of them…from this song. It’s funny how He can use everything to tell us something. Even from an ‘unreligious’ song! We just have to take time to stop- and listen.

Thank you Lord, for came along to show You care, and now there’s colour everywhere…