KABUT TAK TERGENGGAM
<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Kini ia percaya. Hati dapat berdenting
membentuk harmoni mayor sempurna yang manis di kuping, tanpa perlu
buka suara atau memetik gitar. Dawai terakhirnya, yang berbunyi tipis
tinggi tetapi menggenapi, telah terpetik. Warna-warna. Kita
memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di
depan mata. Kita tak pernah menyadari ketidaklengkapan hingga bersua
dengan kepingan diri yang tersesat dalam ruang waktu. Dan ia
percaya kini.
(dari Keping 34,
Supernova Akar, Dee Lestari)
14 Juni 2005. Hanya sekilas perasaan
yang kurasakan hari ini, yang tergambarkan dengan sangat jelas oleh
tulisan Dee lewat buku Supernovanya yang…. Waw!!
I don’t know how she did that! Dia
selalu berhasil menggambarkan apa yang aku alami, atau yang pernah
aku alami, dengan begitu ‘click’nya. So right! Seperti saat dia
menggambarkan tidak enaknya jadi Elektra yang punya darah Cina, tapi
ayahnya sangat membaur dengan kehidupan pribumi (Supernova seri
Petir). Elektra yang sejak SD sampai SMA bersekolah di sekolah
negeri, bukan sekolah swasta yang mahal. Elektra yang tidak memanggil
cici kepada kakaknya atau susu kepada omnya… Elektra yang tidak
mengerti mengapa sepupu-sepupunya ngefans berat kpd Aaron Kwok, atau
bagaimana mereka bisa panen begitu banyak angpao dengan menyanyi
lagu-lagu mandarin, sementara Elektra cuma bisa ngiler melihatnya.
Menyanyi manuk dadali tentu tidak akan dapat sambutan disana.
Perasaan Elektra ini mengingatkan aku
pada perasaan diriku sendiri waktu masih self-identity-searcher.
Waktu itu, jadi manusia multikultur sama sekali nggak ada asiknya.
Saat aku bergabung di keluarga mama yang Chinese, aku merasa mataku
yang besar ini aneh, terus juga bingung dengan panggilan-panggilan
mereka, dan sama sekali tidak nyaman waktu diprotes sepupuku: ‘kenapa
cicimu kamu panggil mbak? Mbak kan pembantu’. Duh… Sama saja saat
aku ke keluarga papaku. Aku yang hanya mengerti bahasa Jawa yang
umum-umum banget, seringkali ketinggalan kalo mereka lagi bercanda.
Atau dapat tatapan mengerikan dari Eyang sepupuku saat tangannya
tidak kucium- hanya kusalami. How am I supposed to know? Keadaan
nggak jadi lebih baik saat aku diManado, tempat kelahiranku. Walaupun
tempat ini rasanya paling menerima pembauran suku, aku tetap saja
merasa aneh karena tidak punya ‘fam’ (surname), atau ‘gunung’,
tempat teman-temanku pada pulang kampung saat hari Natal tiba.
Well, itu sih dulu. Sekarang aku malah
senang dengan keadaanku ini. Karena dimanapun aku ini unik, hehe…
narsistik banget nggak sih! Tapi poinnya adalah, semua itu ada di
state of mind. Yang dulu terasa kekurangan, bisa juga ternyata
dipandang sebagai something special. Padahal sih nggak ada yang
berubah. Aku tetap aku yang sama kan…. Cuma dengan way of thinking
yang berbeda saja. Tapi aku berhutang pada Dee yang telah mewakili
apa yang pernah aku rasakan dulu dalam tokoh Elektra. Kalo Elektra
ketemu Tony yang orang Italia itu… aku ketemu siapa ya di
Netherlands nanti? Atau dia ada di Paris? Atau di…. Ah, this is the
fun of adventure, Lily. Enjoy it!