I Left My Heart in
Bandung
…
Pernah gak, kamu ketemu seseorang baru sekali dua, tapi kamu merasa kamu udah benar2 mengenal dia? Dia asing, tapi dia dekat. Dia seseorang yang baru, tapi kamu udah tahu ‘beat’ hidupnya. Dia bisa keras -seperti orang2 yang kamu kenal lainnya-, tapi yang kamu temukan adalah kelembutan dan keindahannya. Kalaupun ada sisi gelap itu, kamu bisa menerimanya dng lapang, dan merasa somewhat it completes you. Strange…
Tapi karena semua yang kamu rasakan ini, kamu menjadi begitu nyaman bersamanya. Iya… karena bersamanya, kamu tidak perlu berpura-pura. Kamu tidak perlu takut dinilai atas apa yang kamu lakukan, apa yang tidak kamu lakukan, apa yang kamu kenakan, dengan siapa kamu hang out, kemana kamu pergi, dimana kamu beli barang2 yang kamu miliki… bottom line is, kamu bebas menampilkan dirimu apa adanya. Dia membuatmu merasa spesial. Dia melihat kamu dengan cara yang berbeda, tidak seperti orang-orang disekelilingmu melihatmu saat ini. Dia selalu ingin tahu tentangmu. Membuatmu bangga dengan apa yang kamu miliki. Bangga dengan bahasa
Manado
yang dia gak bisa –at all. Dia… membuatmu jatuh cinta padanya. Membuatmu kadang bertanya2, apa yang dimilikinya yang membuatmu seperti ini. Dan kamu tidak akan punya jawaban persis, selain berkata bahwa… it just feels right! Dan kalau kamu sekarang sedang terikat dengan seseorang yang lain, kamu akan berpikir, bahwa kalau ada dunia parallel, mungkin kamu akan bersamanya. Sedang bersamanya.
Well, jujur gw gak pernah merasa seperti ini, terhadap seseorang. Tapi rasa ini, semua yang panjang lebar gw gambarkan di atas, pernah dan masih gw rasakan dengan sangat nyata, terhadap suatu tempat. Tempat yang kepadanya gw selalu ingin kembali.
Bandung
.
Awalnya, gw cuma sekali dua bertemu dengannya. Singkat lagi. Tapi pertemuan2 itu punya bekas tersendiri di hati gw. Seperti ada yang selalu memanggil gw kembali. Dan saat itu jadi nyata di bulan February, tanggal 5, tahun 2004. Kali ini gw bisa lebih lama besamanya. Berharap mengenalnya lebih banyak dalam 6 bulan masa magang ini. And I think I did…
Benar, dia sebenarnya asing. Tapi entah apanya yang membuat kamu akan merasa begitu familiar dengannya. Dia juga bisa keras, seperti kota-kota lainnya di
Indonesia
(karenanya sepupu gw selalu mengingatkan utk sekali-kali baca Pikiran Rakyat-biar waspada). Tapi…ya itu. Yang kamu temukan adalah sisi indahnya. Lembutnya si neng geulis bicara padamu (walaupun hubunganmu dngnya sebatas penanya-penjawab di toserba Yogya), ramahnya tetangga di depan yang bahkan tak kamu tahu namanya, baiknya cowok di TohaNet yang baru saja kamu kenal, pokoknya how just right the people there treated you. Not to mention the places! Segarnya udara di kebun teh Cibolang… indahnya suasana di Kampung Daun (sorry, kurang punya kata2 utk menggambarkan dng lebih fantastis!)… manisnya memetik sendiri buah murbei di satu ‘pulau’ kecil di Pangalengan… bebasnya ponakanmu berlari-lari diantara baju2 yang dipajang di RenaRitti… nikmatnya makan jagung bakar di depan Tamani Café… menantangnya Punclut buat jogging… senangnya melihat couples holding hands, gadis jual bunga, band di kanan kiri jalan, stasiun2 radio yang gak mau ketinggalan menyiarkan langsung suasana di the famous Dago street… banyaknya buku bajakan di Palasari (hehe)… kagetnya dicegat banci di jalan Veteran… freshnya susu murni di Lembang… Uniknya pernak-pernik di China Emporium… Enaknya batagor di depan gereja Imanuel… Uniknya tempat belanja Heritage yang gedungnya kubayangkan seperti Eleanornya Elektra di Supernova 3… Kerennya si pengamen di Cilaki… Manisnya es cendol setelah belanja seharian di Elizabeth… Hijaunya sawah di tengah
kota
di stopan Buah Batu… dan merdunya Marcell menyanyikan lagu soundtrackmu disana: Semusim.
Benar, bersamanya kamu begitu nyaman. Kamu bebas menampilkan apa adanya kamu tanpa takut dinilai. Kamu akan dengan bebas pakai jeans ke gereja, dengan rambut belum sisiran sepulang renang di Bandung Indah langsung ke mall… Kenapa? Karena disana kamu gak perlu takut ketemu orang yang kamu kenal!
Benar, dia tertarik dengan segalanya tentangmu. Dia akan memandang heran plus kagum terhadap cepatnya orang
Manado
bicara saat kamu mendapat telpon dari seorang teman dari
Manado
… Dia akan bertanya-tanya padamu, seperti cantiknya cewek2
Manado
… Dia akan penasaran dengan enaknya makan sayur dicampur2, dan kesusahan hanya utk spell t-i-n-i-t-u-a-n… Dan dia akan amazed melihat porsi sambalmu!
Sekarang saat gw berada di tempat lain, gw dengan senang mengingat semua tentangnya, dan selalu mengakhirinya dengan berpikir: Kalau ada dunia parallel, gw pasti tinggal di
Bandung
. Karena semua tentangnya….feels just right!
p.s:
Thanks to Ci Lanny dan Mas Sendang yang percaya padaku untuk ‘menjelajah’ sendiri, get to know
Bandung
even better. Thanks juga utk Rani, Lisa, for giving me the beauty of being an aunt. Pietra, yang mengajarku tahu menggendong bayi. Ci Shinta, Mas Kadek, Ko Liong, Ci Henny… semua kakak disana yang membuatku…. (almost) feels like home!