RINDU KAMPUNG HALAMAN

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Ini adalah tulisan yang diambil dari
majalah SWAP Indonesia 2004, p.54. Ditulis oleh seorang mahasiswa
cina kelahiran Malaysia yang mengambil jurusan Commercial Law di
University of Melbourne. Di tulisan ini ia berbagi tentang perasaan
rindu kampong halaman. I upload this article to remind myself, that
if at certain times I experience this kind of feeling, the feeling of
being ‘new man in town’, I will remember that IT IS
NORMAL, IT HAPPENS TO MOST OF INTERNATIONAL STUDENTS, and I AM NOT
ALONE…

Sebagai murid internasional yang
menjalani hidup ditempat baru dengan konsep baru sekaligus bertemu
dengan orang-orang baru, rasanya sulit menentukan siapa saya dan
dimana saya berada sebenarnya. Tapi inti dari kehidupan saya jelas:
dua dunia, dua kampung halaman, satu hati.”

Hidup sayadi Melbourne ibarat
sebuah pemandangan yang pernah saya saksikan satu hari di musim
dingin. Saya meliaht seekor burung tergeletak mati tak berdaya di
tanah. Saya tatap langit dengan pandangan putus asa tapi tiba-tiba
saya melihat kilasan pelangi, simbol janji dan harapan.”

Saat saya pertama kali tiba di
Melbourne, saya merasa kurang tidur, otak sepertinya tidak lebih dari
sekumpulan agar-agar. Begitu roda pesawat berdecit mendarat di
landasan pacu Tullamarine, hati saya deg-degan dan jantung saya
berdegup kencang. Saat saya melihat ke arah jendela tampaklah sinar
matahari terbit terindah yang pernah saya lihat.”

Sampai di kampus saya merasa
seperti orang tersesat. Saya mencari orang, suara atau setidaknya
makanan yang saya kenal. Setiap kaki melangkah, saya selalu mencari
hal-hal uang akrab dengan kampong halaman. Hari pertama di kampus
benar-benar sebuah tantangan. Ada perasaan sedih di hati karena tidak
kenal siapa-siapa. Melihat begitu banyak wajah tak dikenal merupakan
perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Saya takut inilah yang
namanya siksaan dunia. Yang lebih parah, saya ingin cepat-cepat
pulang kampung.”

Setelah periode awal yang aneh
ini, saya mulai merasa betah disini. Saya berteman dengan banyak
mahasiswa baru selama masa pengenalan kampus dan di tiap kelas setiap
orang berusaha berteman dengan siapa saja. Saya berkenalan dengan
karakter-karakter yang menyenangkan dan unik.”

Dengan membeli kartu telepon yang
harganya murah, saya akhirnya bisa menghubungi keluarga di rumah, dan
saya rutin mengirim email tentang petualangan dan pengalaman hidup
saya disini, mulai dari menghanguskan taplak meja saat merebus mi
instant sampai kisah-kisah asmara.”

Saya juga terlibat dalam sejumlah
kegiatan dan organisasi untuk menambah pengalaman seperti Melbourne
university Overseas Student’s Services, Chinese Culture Society,
National Liasson Committee, dan sebagainya.”

Kepribadian saya yang humoris dan
sedikit jahil pun tersalurkan disini. Ketika pulpen saya jatuh dan
seorang mahasiswa Australia membantu mengambilkannya, saya
mengatupkan kedua telapak tangan saya sambil menunduk khidmat dengan
gaya ketimuran yg sangat sopan dan berkata ‘Terimakasih atas
kebaikanmu’. Si mahasiswa itu emnatap saya dengan pandangan takjub
dan mungkin menganggap kelakuan saya sebagai bagian dari “tatakrama
Cina”. Dia tidak tahu bahwa sisi kejahilan saya baru saja muncul.”

Saya berjuang mengatasi rindu
kampong halaman dengan berkomunikasi dengan keluarga dan teman,
rileks, dan bbergabung dengan beragam kelompok dan komunitas. Saat
saya mengilas balik pengalaman-pengalaman saya, kesimpulannya setiap
akhir sebuah pengalaman adalah awal dari sebuah pengalaman baru,
sesuatu yang tak ternilai harganya untuk menjalani kehidupan di masa
depan.”

……………………………………………………………………………………………

Well, just like Mother Abbess in the
movie of Sound of Music said: “Climb every mountain, follow every
stream, follow every rainbow, ‘till you find your way.”

Go climb every mountain, Chrysant!

One Response to “RINDU KAMPUNG HALAMAN”

  1. Asti Says:

    She just damn right… I also experience those feelings… mixed feelings of excitement, confusion, fear, uncertainty, and happiness.
    You’ll experience it yourself in the near future, so just remember that you’ll survive. Just like me :)

Leave a Reply