PARADIGM
Ruben pun berdiri, berjalan-jalan gelisah. “Pada saat seperti ini, tidakkah kamu jadi berpikir tentang konsep free will -kemerdekaan memilih yang dihadiahi Tuhan buat manusia- mana otoritas itu? Nyatanya seringkali kita tidak bisa mengelakkan nasib, takdir, lalu cuma bisa nrimo. Persis seperti keadaan kita sekarang. Berdiam diri, pasrah, menunggu keajaiban jatuh dari langit.” ………
Dhimas medengarkan argumentasi Ruben dengan kalem, tak sedikitpun ia tampak terdistraksi. “Ruben, kalau kemerdekaan yang kamu maksud adalah sejenis keinginan anak kecil untuk bisa makan es krim di saat sakit flu, itu memang omong kosong. Tuhan tidak akan memberi hadiah sedangkal itu. Menurutku, free will adalah kebebasan manusia untuk merubah perspektif. Kamu jatuh miskin besok, apakah itu bencana atau berkat tersembunyi? Semuanya ada di tanganmu. Free will adalah kemampuan manusia merubah konteks.”
Ruben berdecak, antara gemas dan geli. “Ya ampun! Sekarang giliran aku yang merasa bodoh! Seperti kucing yang mengejar ekor sendiri…”
“Mungkin memang itulah hidup di alam dualitas. Seberapapun luas pemahaman kita, akal bagaikan sebatang ilalang yang rentan tertiup angin. Gamang dan cepat goyang. Kita tetap manusia, Ruben.”
My fave part of Supernova I:
Putri, Ksatria, dan Bintang Jatuh (pp. 196-197)
Dee Lestari.
July 14th, 2005 at 2:07 am
Sampai saat ini aku masih melihat duel antara free will dan determinisme yang terus berlangsung di pikiranku. Tiap orang punya kebebasan untuk memilih, tapi kebebasan itu hadir within certain boundaries. Paradoks, ya? Jika aku harus mengambil posisi, aku tak yakin jika aku punya jawaban yang pasti dan tegas dimana aku akan berdiri. Mungkin berjuta essay telah lahir karena duel itu, yang aku yakin akan terus berlangsung selama manusia masih dalam perjalanan mencari arti.