When My ‘Down-Day’ Comes…
Hari ini StuNed package sampe juga. Isinya macam2 ttg Belanda, peta yang ku cari2, termasuk satu buku yg judulnya “Are You Ready?” Dari sekian banyak pilihan utk dibaca, gak tau kenapa buku itu yg paling buat aku tertarik utk baca. Buku itu membahas macam2 mulai dari ttg Belanda, pengalaman StuNeders angkatan2 sebelumnya ttg culture shock, dan sistem edukasi disana yg sangat2 menuntut kemandirian.
Membaca ttg berbagai cerita pengalaman dealing with culture shock membuat aku jiper juga… Would I be able to survive there? Can I be that independent? Dan bahkan, selintas pikiran yang mempertanyakan, apa aku harus mengambil kesempatan ini atau let go, mumpung masih di Indonesia? Haha, gila ya! Orang lain bersyukur dapat kesempatan ini, atau paling nda nyoba dulu walopun disana tertekan, aku kok belum pergi juga udah mengalami perasaan spt ini?
Well, apa yg kurasakan hari ini mengingatkanku bhw up and downs spt ini akan selalu ada. Seberapapun positifnya aku dihari2 biasa, toh saat2 pikiran optimis lumpuh bisa ada juga. Being human. Kalo mo diteliliti, rasa ini datangnya dari kondisi fisikku yg lagi gak prima, bbrp malam kurang tidur banget, including last night yg kuabiskan ngobrol bareng Shinta saat kita nginap bareng di Kawanua Cottage buat farewell sebelum kita2 pada tpisah. Udah gitu, setelah kemarin seharian kuhabiskan rame2 nginap sama Shinta, Irma, Lilis, Eric dan Noku, skr stl mereka pada gak ada terasa banget sepinya. Lalu jadi tambah blue deh… ngebayangin hari2 yg bakal kulalui jauh dari teman2 yang aku sayangi dan sayang padaku. Ngebayangin aku harus menyesuaikan dengan teman2 baru gak tau dari negeri mana yang bisa saja sangat cuek dan self centered. Udah gitu, kubaca pula sharing pengalaman culture shocknya Mem Syaloom (my lecturer skaligus senior StuNeders) yang bikin terkaget2. Gila aja… mem Syaloom yg terlihat bgt cool-take-it-easy person pernah sampe udah booking tiket utk pulang saat baru dibulan2 awal di Belanda, saking homesicknya. Terus gimana aku yg pemikir n melankolis begini? Ampun deh! Langsung aja pikiran2 negatif dan kekuatiran melanda aku.
Tapi Tuhan selalu baik. Gak tau kenapa, di jam 9 malam, jam yg normally gak pernah aku pake utk saat teduh, aku tiba2 rindu skali utk baca renungan hari ini. Dan firmanNya benar2 terasa berbicara utk aku, karna isinya ttg hal kekuatiran, mengapa kita gak perlu kuatir, dan mengapa kita perlu take time to stop, and see how God takes care of birds. Bagaimana Tuhan selalu menanti kita utk share segala beban berat, dan menawarkan kelegaan buat kita. Hati yang tadinya gak keruan keruhnya, skr mulai kembali cerah. Dia memberi kelegaan itu. Aku jadi teringat, 14 Juni lalu saat aku dapat pengumuman dari NEC bhw aku ditrima. Paginya, renungan yg kubaca bicara ttg Yosua 1, bagaimana Tuhan menguatkan Yosua dan berjanji akan selalu menyertainya dimanapun, and will never forsake him or leave him. I believe it applies for me too. Dimanapun, di tempat aku nyaman seperti di Manado ini atau di tempat yg serba baru nanti, ada satu hal yang akan selalu sama: Tuhan akan selalu menyertai aku. Dan Dia tahu apa yg aku butuhkan. And HE provides.
Terimakasih Tuhan, utk kelegaan yang Kau beri. Knowing that U’ll always be with me is more than enough. Jadi teringat satu lagu: “Dikala ku cemas akan masa depan dalam kehidupanku, ku mau lihat burung2 di udara…ku mau lihat bunga2 dipadang… Kadang ku takut, aku ragu, aku bimbang, ku lupa ada yang kuasa, yang dapat memberi sukacita. Ku mau jadi burung, ku mau jadi bunga yang tak ada rasa takut. Dengan rasa percaya diri aku maju tanpa ragu karna Kau besertaku.”
July 10th, 2005 at 8:18 am
Hi Lily,
Senang bisa membaca apa yang kamu tulis. Tidak banyak yang bisa saya share tapi satu hal yang pasti selama kita selalu mengandalkan Tuhan tidak ada yang mustahil. Tuhan pasti selalu memberikan yang terbaik. Saya benar-benar bisa merasakan itu selama study terlebih pada saat ini di Adelaide. Saat kamu menulis tentang bagaimana Tuhan memelihara Burung2, saya makin senang karena saya juga selalu memikirkan itu untuk memotivasi my self selama di sini (setidaknya bukan cuman saya yang memikirkan itu). Pada saat meluangkan waktu memberi mereka makan (sebagai obat homesick) saya selalu berkata dalam hati betapa beruntungnya saya dengan apa yang Tuhan berikan. Saya mendapatkan jauh lebih banyak dari burung-burung itu. Tapi mengapa saya harus selalu merasa cemas dan khawatir akan hari-hari esok. Jika burung saja yang tidak pernah menanam dan menumpuk makanannya bisa hidup dan bermain dengan tenang dan ceria, mengapa saya tidak bisa. Begitu sering saya merasa down di sini namun saya bersyukur karena dengan itu saya bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk Tuhan. Melupakan sementara semua keegoan dan mengintrospeksi diri. Saya bersyukur karena dengan melakukan itu, semua permasalahan dengan project dan tugas bisa terpecahkan. Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita selama kita terus mengandalkan-Nya, terkadang hanyalah soal waktu, tapi pada akhirnya kita pasti mendapatkan yang terbaik. Saya yakin, Lily pasti berhasil mengatasi semuanya dengan baik.
July 12th, 2005 at 8:10 am
Wah koko kobo… kau ternyata begitu bijaksana dan menghibur, hehe… Thanks a lot 4 the encouragement, i really need that. Means a lot. Jangan bosan kasih positive thoughts kayak begini ya kalo masa2 downnya kita dtg lagi, hehe… God speed!
July 13th, 2005 at 4:09 am
Erghh… Chrysant.. erghh.. how to start yak^^ pusing neh baca ceritanya.. hihi. tapi asik juga.. but my suggestion, next time, pake space gih biar asikk.. hehe.. well but that’s a great story loh.. iya sih.. everybody feels the same way kok.. jadi dun you worrie lah.. first experience ke abroad pasti bikin pusing, tapi disitulah asikknyaa… hehe..
oh well, soal put pictures.. gampang seh.. mas gih nulis blog, di bagian atas ada gambar yang link ke insert image.. tinggal gampang gitu.. as a matter of fact, blogs kamu yang belon pake foto tapi dah dipublish masih bisa di insert image nya.. hehe
weell that’s all for nw..
Enjoy Europe ^^
July 14th, 2005 at 1:56 am
Sebagian diriku adalah dirimu…
Segenap kombinasi asam amino yang membentuk struktur DNA kita…
We’re sister.
Jika aku menengok ke belakang, aku sudah stress bahkan sebelum aku berangkat ke Oz. Segenap perasaan cemas, ketidakpastian, takut, dan lain lain yang memuncak waktu aku menghabiskan 6 minggu di Denpasar. Padahal orang-orang melihatku sebagai orang yang independen dan berani, dan demikian juga menurutku. Aku mencoba menghilangkan perasaan itu, menguasainya, dan kembali jadi diriku dengan sekuat tenaga. Tapi tidak bisa, dan aku jadi lebih stress karenanya
(mungkin lengkapnya akan kutuliskan di blog-ku biar lengkap…)
Sekarang, aku merasa bisa melihat lebih jelas tentang keadaanku itu. Aku seharusnya tak perlu repot-repot mengubah perasaanku dan pikiranku… karena itu semua adalah sebuah proses yang terjadi pada setiap orang, dengan porsi yang berbeda beda. AKu pikir, mungkin yang lebih baik yang bisa kita lakukan adalah mengetahui bahwa kita ada dalam proses itu… mengetahui efek-efek yang terjadi dengan diri kita, berkenalan dengan mereka, menjadi akrab, dan tidak memaksakan diri membunuh mereka ataupun justru menjadi takluk akan mereka. Mereka, efek2… gejala2…baik thoughts; feelings and behaviour… akan selalu ada di sana, menjadi bagian dari proses itu. Aku percaya akan lebih mudah untuk kita bila kita punya kesadaran bahwa kita akan melewati proses itu bersama mereka, dan seaneh apapun mahluk-mahluk yang berupa your thoughts, feelings, and behaviour, kita tidak pernah menjadi terlalu aneh atau gila karenanya. Mereka, dan kita, adalah senormal yang kita rasakan. Semuanya adalah hasil dari bagaimana kita memandang dunia dan diri kita- yang sering jauh berbeda dari ‘kita yang sebenarnya’-
yang memang demikianlah selalu terjadi disetiap perjalanan kita menapaki sebuah jalan yang bernama proses.
Wie, nda bingo baca ini tulisan? hehehe. Yang pasti aku ingin bilang, bahwa torang manusia yang lemah, yang juga punya natur untuk khawatir. However, torang punya sumber kekuatan dan penghiburan, yang justru akan torang kenal semakin dekat secara pribadi bila torang lagi lemah. Semakin torang lemah, semakin torang bergantung padaNya, dan semakin keindahanNya terlihat. Just remember, my dearly sister, di setiap jalan yang akan kau tapaki, termasuk jalan yang bernama proses itu, jika kau melihat kebelakangmu, kau akan melihat bekas tapak kakiNya di samping bekas tapak kakimu. Dan sering, kau hanya akan melihat sepasang footprints… His footprints.
July 14th, 2005 at 11:08 pm
wei,,,,
kita bingo, ntau mo tulis apa. btw, qt setuju dg mb as da blg ttg footprints, itu le di ktbhkan wkt di grj baru2. mar mmg qt jg pernah baca ( mar ntau ta pernah kse ato nda). tapi intinya yah itulah pedomanlah pada footprints. pokoknya footprints deh. pokoknya disitu tuh dah menjelaskan mksdku. yang pasti seperti ia blg dulu2, pokoknya qta hrs terbuka deh, tau kan maksudnya, jgn seperti ia yang dulu, pasti ga bakalan berkembang deh. trus jgn suka dgr2 apa yang jelek deh ( apa kang qt da tulis ini), tapi apalah yang ku tulis yang penting aku mengerti n kamu mengerti yah pasti ngerti. hehehe…
cm betul komang ini, sebenarnya, qta malas mo baca, krn talalu pjg. akhirnya ia baca aja asal klik gt lho, akhirnya baca ini deh, dari pada baca poem. sedangkan cerita buta2, apalagi poem lebe buta2 kasiang. maklum buta poem, ga ngerti. tapi spy lily nda mangamu ya baca jo no. akhirnya baca ini deh. (so pjg sto kang), pokoknya itu deh depe inti. hidup footprints…. thx testi nya ia so baca… “, ….