Saat Past, Present, Future bertemu di pikiranku

Gak biasanya aku ke halaman depan dan menghabiskan waktu disana. Padahal halaman depan cukup asik, hijau dan tenang. Tapi sebagian besar aktifitas di rumah kuhabiskan di dalam rumah saja dan jarang ada waktu untuk sekedar duduk santai depan rumah.

Kemaren ada pengecualian. Lagi ’sumpek’ soalnya. Ada keadaan yg benar-benar bikin aku lelah dan jadi merasa serba salah. Mo keluar, aku baru aja pulang dari jalan sama Alain. Kesorean sih pulangnya. Mo lihat tv, gak ada yg bagus. Mo nonton dvd, lagi bosen ngeliatin kom terus. Makanya acara merenung di halaman depan jadi pilihan yg lumayanlah…

Di halaman, aku duduk di batu gede depan kamar baru. Batu ini pernah jadi tempat aku foto wkt masih belum sekolah dulu, masih tiga atau empat tahun. Waktu SMP -belum ada teras- batu ini juga tempat aku duduk2 kalo lagi kekuncian dan gak bisa masuk rumah. Saat salah satu anjingku mati, dia ‘disemayamkan’ disini sebelum dikubur. Batu ini ada disini dan sudah menyimpan energi dari berbagai kejadian yg disaksikannya… Jadi penasaran, di tahun 2025 apa batu ini masih ada disini? Seperti apa lingkungan sekitarnya? Aku ada dimana? Tiba-tiba aku dipenuhi pikiran tentang masa depan, segala kemungkinan yang bisa terjadi, dan segala misterinya.

Mataku lalu tertuju ke gundukan semen kecil, dekat batu itu juga. Itu dibuat aku sama teman main SDku. Waktu itu temanku bilang, mau bikin ‘monumen’ biar gak lupa kalo saat2 kita suka main bareng. Lalu dicurinyalah semen yg wkt itu dipake buat bangun pagar antara rumah skr sama yg lama. Jadi wondering apa dia saat itu terlintas di pikirannya, kalo bertahun2 kemudian aku akan duduk disini dan mengingat dia, masa kecil kita, senangnya main kasti sama2, naik pohon, makan es tong-tong dan belepotan sama2… Apa waktu itu terpikir olehnya, kalo empat belas tahun kemudian ‘monumen’nya itu akan sedikit memberi kehangatan bagi hatiku yg sedang gundah?

Lalu aku melihat bintang di langit. Teringat satu artikel di Kompas. Katanya bintang2 itu bisa begitu jauh letaknya, sehingga dengan kecepatan cahaya pun butuh berpuluh-puluh tahun untuk bisa dilihat oleh kita saat ini. Itu artinya, bintang2 itu sudah ada disana dan mengirimkan sinarnya berpuluh-puluh tahun lalu… Artinya juga, berpuluh-puluh tahun lalu alam sudah mengatur bintang2 di langit itu untuk menyinari seorang anak yang lagi bete duduk di batu sendirian saat ini. Ajaib ya, lewat sinarnya masa lalu dan masa sekarang bertemu dan jadi satu.

Sinar bintang, monumen semen, batu ini… seperti berbicara padaku tentang esensi sang waktu. Ada terus menyertaiku tanpa aku bisa mengulangnya lagi untuk menikmati indahnya masa lalu, ataupun mempercepat jalannya untuk menyibak misteri masa depan. Tapi keduanya bertemu dan bersatu: di aku saat ini. Aneh dan complicated caranya menyatakan diri, but yet beautiful…

Leave a Reply