Autumn Falls in Scheveningen
Autumn telah datang dengan segala romantismenya…
Pohon-pohon yang berbaris rapi di sepanjang jalan dari rumah ke kampus, dengan daunnya berubah menjadi coklat dan berguguran jatuh ke jalan yang tiap hari kulindasi dengan ban sepedaku.
Angin yang semakin dingin berhembus, menawar hangatnya matahari yang mencoba menyapa. Tapi aku tetap di sana, di secret garden-ku, menikmati semua romantisme ini. Aneh, rasanya suasana ini sudah begitu kukenal, as if i’ve been here before, padahal kenyataannya tidak.
Terus mencari-cari, bersama dengan langkah kakiku yang membawaku pulang untuk menghirup Nescafe panas- yang lain rasanya. Mungkin banyak film yang settingnya musim gugur dengan dedaunan yang coklat itu yang membuat aku merasa begitu familiar dengan suasana ini, film Autumn Falls in New York-nya Richard Gere contohnya. Yah, anggaplah itu penjelasannya, kenapa aku merasa begitu familiar dengan autumn ini dan merasa pernah mengalaminya. Padahal ini jelas-jelas autumn pertamaku. Been wondering, adakah dunia paralel itu nyata…
Well, autumn memang indah, aku setuju sekali dengan ci Melan yang juga sangat menyukai musim ini. No wonder banyak film dibuat dengan setting season ini.